SUPRANATURAL MELAYU ALAM ILLAHI
                                 ( SMAI )

Assalamualaikum wr wb

Marhaban ya Romadhon.....1437 H
Salam ukhuwah bagi umat muslim di seluruh penjuru tanah air dan penjuru Dunia. Dalam kesempatan kali ini saya pribadi dan keluarga mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa, Semoga amal ibadah kita menjadikan kita sebagai insan yang lebih baik lagi. Dan terlahir kembali setelah idul fitri seperti anak bayi yang baru dilahirkan tanpa dosa dan tanpa noda di Hati. Saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekhilafan yang disengaja ataupun yang tak disengaja. Karena manusia tempatnya salah dan khilaf. Mohon Maaf lahir dan Bathin.

BISMILLAAHI WA BILLAAHI WA MINALLAHI WA ‘ALALLAHI WA FIL LAAHI

Dengan nama Allah, dan Demi Allah dari Allah dan atas Allah dan dalam lindungan allah.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”.(Asy-Syams: 1-10).

Ilmu tradisional apapun alirannya, bila ditinjau dari sudut pandang Mind Technology hakikatnya adalah sebuah Proses Programming Pikiran untuk menanamkan sebuah ide atau benih pikiran ke dalam pikiran bawah sadar. Dan ketika benih pikiran (Ilmu) ini telah tumbuh menjadi Program Pikiran. Maka akan bersifat Sebagai Mekanisme Otomatis yang mengarahkan praktisinya untuk berfikir, berkata-kata, dan bertindak sesuai dengan karakter dari program keilmuan tersebut.

Bila ilmunya berkarakter baik, maka manusianya akan mempunyai HAWA yang baik pula.
Bila ilmunya berkarakter jahat, maka manusianya akan mempunyai HAWA yang jahat pula.
Bila ilmunya berkarakter binatang, maka manusianya akan mempunyai HAWA yang kuat dari unsur binatang tersebut.

Oleh karena itulah ada Faktor Jodoh dalam menguasai suatu Ilmu.

Kenapa begitu….?

Sebuah contoh : Ilmu Hitam…
Untuk menguasai Ilmu Hitam, biasanya ditempuh dengan laku yang secara bertahap mengkondisikan psikologis pelakunya untuk mempunyai hati yang hitam dan jahat.

Dan bila si pelaku tidak berjodoh….

Maka biasanya dia akan merasa tidak cocok dan tidak betah dengan ilmunya. Dan Terjadi konflik yang berkepanjangan, dan akan begitu seterusnya apabila dia tidak mau membuang ilmu tersebut.

Banyak yang mengatakan bahwa Ilmu apapun itu bersifat Netral…
Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena Ilmu Kemanusiaan (SoftSkill). Itu berbeda dengan Ilmu Tekhnis (Hardskill) semacam ilmu pertukangan, ilmu tekhnik mesin, dll.

Ilmu-ilmu yang bersifat NETRAL biasanya adalah ilmu-ilmu yang bersifat Kaweruh/pengetahuan, yang untuk menguasainya tidak perlu menggunakan laku apapun. Cukup mengetahui struktur dari keilmuannya. Dan setelah itu, Maka bisa dipraktekkan.

Yang termasuk Ilmu-ilmu yang Netral lainnya adalah Ilmu yang terkait dengan Ilmu Inner Power. Yang untuk membangkitkannya menggunakan cara-cara yang natural, semacam pernafasan, dll. Namun, bila ilmu pernafasan ini sudah digabung dengan Affirmasi khusus, biasanya netralitasnya sudah hilang.

TINGKATAN ILMU TERGANTUNG RASA
Sesungguhnya pemahaman ilmu terlahir dari 3 golongan, 3 pemahaman dan 3 keluasan,yaitu :
1. Syareat : Mereka senang berdebat tanpa mau berbagi dengan keluasan ilmu. cara pemahamannya hanya sebatas akal semata. Sifatnya tidak mau dikalahkan dan bisanya hanya berdebat atau ingin adu argument.. Golongan ini tidak bisa naik sampai ke tingkat Musyahadah (tidak sampai bertemu secara lahiriyyah kepada Ahlulloh atau bangsa Arifun) pegangannya hanya ilmu Fikih semata.

2. Thorekot :  Mereka senang beribadah dan jiwanya tenang, mulutnya diam dan banyak intropeksi diri atas segala kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu. Golongan ini kelemahannya cuma satu,,masih berharap duniawi (hatinya belum tenang 100%) maqomnya hanya sampai ke tingkat Iman) Pegangannya hanya ilmu Fikih dan Tasawwuf.

3. Hakikat: Mereka hatinya dzikir, mulutnya dzikir dan badannya dzikir. Hati dan pikirannya lepas karena Allah. jiwannya tenang dan tidak pernah jatuh atas cobaan hidup. Prinsipnya selalu memakai azas hukum. Sifatnya mengikuti jejak Rosululloh dan keluasan ilmunya sulit di lihat. Golongan ini tidak pernah ikut campur masalah orang lain, kecuali dalam hukum Allah, golongan ini tegas berprinsip…Pegangannya ilmu Fikih, Tasawwuf dan Tauhid serta Dhaukiyyah.

Dari ketiga golongan di atas rasa keluasan ilmu yang diterimanya jauh berbeda satu dengan lainnya :
1. Syareat : Hanya batasan penerimaan ilmunya yang pas buat akalnya saja. Bila mereka merasa kena atas hukum tersebut, maka mereka kurang bisa menerimanya.

2. Thorekot : Hanya batasan penerima ilmunya sebatas menerima. Apapun ilmu yang diajarkan oleh sang guru, baik yang bersifat nikmat, atau kritikan, dia tetap menerima dengan merubah kejelekannya menuju yang lebih baik.

3. Hakikat : Baik jeleknya ilmu,,,mereka akan membiasakan dengan makna husnuddzon (apapun diucapkannya baik) tidak mau salah, tidak mau ikut campur urusan orang lain, jiwanya tenang dan keluasan ilmunya sulit di jajaki……

HAKIKAT KHODAM/PEREWANGAN

Sebenarnya dalam tubuh kita memang ada malaikat yang senantiasa mencatat perbuatan kita. Sebagaimana ayat Al-Qur’an menyebutkan :
“Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”
(Surah Qaf ayat 18).
Di sini menunjukkan bahwa malaikat itu (Raqib dan Atid) diberi tugas untuk mencatat amal perbuatan kita untuk kemudian dilaporkan kepada Allah pada Hari Kiamat. Malaikat itu tidak diberi tugas menghamba kepada kita untuk menjadi khadam. Untuk tataran malaikat, tak mungkin manusia bisa memerintahnya apalagi mengendalikannya. Malaikat memiliki pekerjaan yang telah ditentukan oleh Allah. Para malaikat itu telah memiliki tugas sendiri dari Allah yang tidak diwakilkan dan tidak pula digantikan. Karena itu jika pengertian khadam ditujukan kepada malaikat, maka hal itu tidaklah mungkin.
Memang pada beberapa buku hikmah disebutkan adanya beberapa malaikat yang mengawal ayat-ayat Al-Qur’an serta asma-asma Allah yang indah (asma al-Husna). Namun ini pun tidak bisa diartikan menjadi khadam kita.
Misalnya pada asma Allah Al-Hasib, menurut Imam al-Buni nama itu dikawal oleh malaikat Matha’il. Pada asma Allah al-Karim dikawal malaikat Kalya’il. Namun, para malaikat itu sudah ditugasi Allah sesuai dengan pekerjaannya. Misalnya, Malaikat Kalya’il akan bertugas mengawal asma Allah al-Karim agar melancarkan rezeki pembacanya. Maka, ketika asma Allah itu dibaca oleh seseorang, maka malaikat itu mengerjakan tugasnya yang telah diberikan Allah, bukan dalam rangka mengikuti kehendak kita. Tapi, hal tersebut akan mungkin terjadi pada kalangan jin yang memiliki nafsu, keinginan, dan “kenakalan” sebagaimana manusia. Namun, sejauh mana kemampuan memiliki khadam yang bisa mempengaruhi majikannya, misalnya menambah kekayaan dan lain sebagainya.
Yang jelas, yang harus Anda ingat, jin itu tak ubahnya seperti manusia juga. Ia hamba Allah semata yang tak memiliki kemampuan memberi dan kemuliaan lainnya. Hanya, karena jin itu bersifat tak tampak, maka hal tersebut dijadikan kelebihan dari manusia. Misalnya, jin bisa disuruh mencuri informasi. Tapi, banyak ulama yang meragukan informasi yang diberikan jin, mengingat jin dianggap lebih nakal dari manusia. Seburuk-buruknya manusia, masih lebih baik daripada jin yang terbaik.
Untuk menaklukkan jin tentu saja tidak mudah. Anda harus kuat olah batinnya. Jika tidak, justru Anda yang akan tejermus pada hal-hal yang tak diinginkan. Misalnya, karena tak kuat mengamalkan wiridnya, bisa terganggu pikirannya. Bahkan, bisa jadi justru Anda nanti yang akan menjadi khaddam jin.
Menurut hemat kami, sesuai dengan usia Anda yang masih muda, tak perlu mencoba menguasai hal-hal seperti itu. Anda—dan juga kami—lebih baik hidup wajar seperti Rasulullah (saw). Hidup sederhana dan apa adanya. Tidak menuntut banyak dan menjalani hidup dengan penuh keikhlasan. Maka, perkuatlah batin Anda dengan ilmu dan amal, sehigga membawa Anda pada martabat yang lebih tinggi di sisi Allah. Anda pun akan bisa menguasai segala hal yang diinginkan, tentunya atas izin Allah (Swt).